Unordered List
Thursday, 18 June 2026
KERAJAAN SELAPARANG DI PULAU LOMBOK
Kerajaan
Selaparang adalah salah satu kerajaan yang pernah ada di Pulau Lombok. Pusat
kerajaan ini pada masa lampau berada di Selaparang (sering pula diucapkan
dengan Seleparang), yang saat ini kurang lebih lebih berada di desa Selaparang,
kecamatan Swela, Lombok Timur.
Sejujurnya minim sekali yang dapat diketahui tentang sejarah Kerajaan
Selaparang, terutama sekali tentang awal mula berdirinya. Namun, tentu saja
terdapat beberapa sumber objektif yang cukup dapat dipercaya. Salah satunya
adalah kisah yang tercatat di dalam daun Lontar yang menyebutkan bahwa
berdirinya Kerajaan Selaparang tidak akan pernah bisa dilepaskan dari sejarah
masuknya atau proses penyebaran agama Islam di Pulau Lombok.
Berdirinya
Selaparang Disebutkan di dalam daun Lontar tersebut bahwa agama Islam salah
satunya (bukan satu-satunya) pertama kali dibawa dan disebarkan oleh seorang
muballigh dari kota Bagdad, Iraq, bernama Syaikh Sayyid Nururrasyid Ibnu Hajar
al-Haitami. Masyarakat Pulau Lombok secara turun-temurun lebih mengenal beliau
dengan sebutan Ghaos Abdul Razak. Nah, beliau inilah, selain sebagai penyebar
agama Islam, dipercaya juga sebagai cikal bakal Sulthan-Sulthan dari
kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Lombok.Namun selain beliau, Betara Tunggul
Nala (disebut pula Nala Segara) diyakini pula sebagai leluhur Sulthan-Sulthan
di Pulau Lombok.
Betara
Nala memiliki seorang putra bernama Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon
Rambitan yang bernama asli Sayyid Abdrurrahman. Beliau ini dikenal pula dengan
nama Wali Nyatok, Kata “Nyatoq” artinya Nyata. Ia disebut sebagai pendiri
Kerajaan Kayangan yang merupakan cikal bakal Kerajaan Selaparang. Namun,
ketinggian ilmu tarekatnya telah mendorongnya untuk mengundurkan diri dari
panggung Kerajaan Kayangan dan kemudian menetap di desa Rambitan, Lombok
Tengah, sebagai penyebar agama Islam di wilayah ini.
Wali
Nyatok ini di Pulau Bali terkenal dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Dang
Hyang Dwijendra. Adapun di Sumbawa terkenal dengan nama Tuan Semeru, sedangkan
di Pulau Jawa beliau bernama Aji Duta Semu atau Pangeran Sangupati. Wali Nyatoq
dikenal juga di Lombok dengan nama Datu Pangeran Djajing Sorga yang dipercaya
datang dari Majapahit, Kabangan]], Jawa Timur, untuk menyebarkan agama Islam.
Ia dikenal sebagai penyebar agama Islam, pun dianggap sebagai seorang Wali
Allah. Ia mengarang kitab Jatiswara, Prembonan, Lampanan Wayang, Tasawuf dan
Fiqh. Dalam proses menyebarkan agama Islam, salah satu media yang digunakannya
adalah Wayang, sebagaimana yang dilakukan pula oleh Sunan Kalijaga. Adapun
bentuk mistik Islam yang dibawanya merupakan kombinasi (sinkretisme) antara
mistisme Islam (Sufisme) dengan salah satu ajaran filsafat Hindu, yaitu Advaita
Vedanta.
Kembali ke
soal Kerajaan Selaparang dan Ghaos Abdul Razak. Tidak diketahui secara pasti kapan
tepatnya beliau masuk ke Pulau Lombok. Namun pendapat terkuat menyebutkan bahwa
beliau datang ke Pulau Lombok untuk pertama kalinya sekitar tahun 600-an
Hijriyah atau abad ke-13 Masehi (antara tahun 1201 hingga 1300 Masehi). Ghaos
Abdul Razak mendarat di Lombok bagian utara yang disebut dengan Bayan.
Beliaupun menetap dan berda’wah di sana. Beliau kemudian menikah dan lahirlahi
tiga orang anak, ya’ni Sayyid Umar, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Gunung
Pujut, Sayyid Amir, yang kemudian menjadi datu Kerajaan Pejanggik, dan Syarifah
Qomariah atau yang lebih terkenal dengan sebutan Dewi Anjani.
Kemudian
Ghaos Abdul Razak menikah lagi dengan seorang putri dari Kerajaan Sasak yang
melahirkan dua orang anak, ya’ni seorang putra bernama Sayyid Zulqarnain (dikenal
juga dengan sebutan Syaikh ‘Abdul Rahman) atau disebut pula dengan Ghaos ‘Abdul
Rahman, dan seorang putri bernama Syarifah Lathifah yang juluki pula dengan
Denda Rabi’ah. Sayyid Zulqarnain inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan
Selaparang sekaligus pula sebagai Datu (raja) pertama dengan gelar Datu
Selaparang atau Sulthan Rinjani.
Nah,
sampai disini sudah terdapat dua versi, yakni antara Nala Segara (Betara
Tunggul Nala) dan Ghaos Abdul Razak yang sama-sama dipercaya sebagai penyebar
agama Islam, menjadi cikal bakal Sulthan-Sulthan Lombok dan pendiri Kerajaan
Selaparang. Pertanyaan yang agak menggelitik kemudian adalah: Tidakkah keduanya
memang orang yang sama? Tidakkah yang dimaksud sebagai Nala Segara itu sebagai
Ghaos Abdul Razak, dan Wali Nyatok adalah Ghaos ‘Abdul Rahman. Hal itu masih
dimungkinkan mengingat pada masa dahulu seorang tokoh seringkali menggunakan
nama-nama berbeda ditempat yang berbeda.
Kejayaan
Selaparang
Kerajaan
Selaparang tergolong kerajaan yang tangguh, baik di darat maupun di laut.
Laskar lautnya telah berhasil mengusir Belanda yang hendak memasuki wilayah
tersebut sekitar tahun 1667-1668 Masehi. Namun demikian, Kerajaan Selaparang
harus rnerelakan salah satu wilayahnya dikuasai Belanda, yakni Pulau Sumbawa,
karena lebih dahulu direbut sebelum terjadinya peperangan laut. Di samping itu,
laskar lautnya pernah pula mematahkan serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan
Gelgel (Bali) dari arah barat. Selaparang pernah dua kali terlibat dalam
pertempuran sengit melawan Kerajaan Gelgel, yakni sekitar tahun 1616 dan 1624
Masehi, akan tetapi kedua-duanya dapat ditumpas habis, dan tentara Gelgel dapat
ditawan dalam jumlah yang cukup besar pula.
Setelah
pertempuran sengit tersebut, Kerajaan Selaparang mulai menerapkan kebijaksanaan
baru untuk membangun kerajaannya dengan memperkuat sektor agraris. Maka, pusat
pemerintahan kerajaan kemudian dipindahkan agak ke pedalaman, di sebuah dataran
perbukitan, tepat di desa Selaparang sekarang ini. Dari wilayah kota yang baru
ini, panorama Selat Alas yang indah membiru dapat dinikmati dengan latar
belakang daratan Pulau Sumbawa dari ujung utara ke selatan dengan sekali sapuan
pandangan. Dengan demikian, semua gerakan yang mencurigakan di tengah lautan
akan segera dapat diketahui. Wilayah ibukota Kerajaan Selaparang inipun
memiliki daerah bagian belakang berupa bukit-bukit persawahan yang dibangun dan
ditata rapi, bertingkat-tingkat hingga ke hutan Lemor yang memiliki sumber mata
air yang melimpah.
Berbagai
sumber menyebutkan, bahwa setelah dipindahkan, Kerajaan Selaparang mengalami
kemajuan pesat. Sebuah sumber mengungkapkan, Kerajaan Selaparang dapat
mengembangkan kekuasaannya hingga ke Sumbawa Barat. Disebutkan pula bahwa
seorang raja muda bernama Sri Dadelanatha, dilantik dengan gelar Dewa Meraja di
Sumbawa Barat karena saat itu (1630 Masehi) daerah ini juga masih termasuk ke
dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Selaparang. Kemudian dilanjutkan oleh generasi
berikutnya, yaitu sekitar tanggal 30 November 1648 Masehi, putera mahkota
Selaparang bernama Pangeran Pemayaman dengan gelar Pemban Aji Komala, dilantik
di Sumbawa menjadi Sulthan Selaparang yang memerintah seluruh wilayah Pulau
Lombok dan Sumbawa.
Keruntuhan
Selaparang
Sekalipun Selaparang unggul melawan kekuatan tetangga, yaitu Kerajaan Gelgel,
namun pada saat yang bersamaan, suatu kekuatan baru dari bagian barat telah
muncul pula. Embrio kekuatan ini telah ada sejak permulaan abad ke-15 dengan
datangnya para imigran petani liar dari Karang Asem (Pulau Bali) secara
bergelombang, dan selanjutnya mendirikan koloni di kawasan Kota Mataram
sekarang ini. Kekuatan itu kemudian secara berangsur-angsur tumbuh berkembang
sehingga menjelma menjadi kerajaan kecil, yaitu Kerajaan Pagutan dan Pagesangan
yang berdiri sekitar tahun 1622 Masehi. Kerajaan ini berdiri lima tahun setelah
serangan laut pertama Kerajaan Gelgel dari Bali Utara atau dua tahun sebelum
serangan ke dua yang dapat ditumpas oleh laskar Kerajaan Selaparang.
Namun,
bahaya yang dinilai menjadi ancaman utama dan akan tetap muncul secara
tiba-tiba adalah kekuatan asing, yakni Belanda, yang tentunya sewaktu-waktu
dapat melakukan ekspansi militer. Kekuatan dan tetangga dekat diabaikan, karena
Gelgel yang demikian kuat mampu dipatahkan. Oleh sebab itu, sebelum kerajaan
yang berdiri di wilayah kekuasaannya di bagian barat ini berdiri, hanya
diantisipasi dengan menempatkan laskar kecil di bawah pimpinan Patinglaga Deneq
Wirabangsa.
Dalam upaya menghadapi
masalah yang baru tumbuh dari bagian barat itu yakni Kerajaan Gelgel, Kerajaan
Mataram Karang Asem dan terutama sekali Belanda?maka secara tiba-tiba saja,
salah seorang tokoh penting di lingkungan pusat kerajaan bernama Arya Banjar
Getas, ditengarai berselisih paham dengan rajanya, raja Kerajaan Selaparang,
soal posisi pasti perbatasan antara wilayah Kerajaan Selaparang dan Pejanggik.
Pada akhirnya Arya Banjar Getas beserta para pengikutnya memutuskan untuk
meninggalkan Selaparang dan bergabung dengan sebuah ekspedisi tentara Kerajaan
Mataram Karang Asem (Bali) yang mana pada saat itu sudah berhasil mendarat di Lombok
Barat. Kemudian atas segala taktiknya, Arya Banjar Getas menyusun rencana
dengan pihak Kerajaan Mataram Karang Asem untuk bersama-sama menggempur
Kerajaan Selaparang.[12] Pada akhirnya, ekspedisi militer tersebut telah
berhasil menaklukkan Kerajaan Selaparang. Peristiwa itu terjadi sekitar tahun
1672 Masehi.