Perbedaan salafi dan ASWAJA (ahlus sunnah wal jamaah) tentang kedudukan bid'ah
Pertama: kaum salafi menilai semua bid'ah adalah sesat (dlalalah), dan tidak mengakui adanya bid'ah hasanah/ mahmudah. Sedangkan ulama2 ahlussunnah wal jamaah membagi bid'ah menjadi dua, yaitu bid'ah hasanah (baik)/ mahmudah (terpuji) dan bid'ah sayyi'ah (buruk) / tercela (madzmumah).
Kedua: salafi menjadikan bid'ah sebagai hukum. Mereka sering menghukumi sesuatu dengan bid'ah dan sunnah, Jadi mereka MENAMBAHI kategori hukum dGn bid'ah. Sedangkan ulama-ulama salaf ahlussunnah wal jama'ah, seperti Imam Syafi'i, tidak menggunakan istilah bid'ah sebagai hukum melainkan hanya sebagai identifikasi perbuatan antara yang pernah dilakukan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dan perbuatan yang tidak atau belum dilakukan beliau.
Kategori hukum dlm syariah Islam hanya lima, yaitu : Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh dan Haram. Dengan demikian bid'ah bukanlah hukum, melainkan kategori perbuatan.
Oleh karena itu status bid'ah terbagi ke dalam lima hukum:
1. Bid'ah wajibah (bid'ah yg wajib), seperti pembukuan al-Quran menjadi mushaf, penyusunan ilmu nahwu, ilmu shorof, ilmu tajwid, ilmu tafsir, ilmu hadis, dll. Bid'ah macam ini berpahala besar. Secara umum kewajiban tersebut bersifat kifayah, yakni jika sudah ada yang melaksanakannya maka umat Islam yang lain menjadi gugur kewajibannya dalam bidang-bidang tersebut.
2. Bid'ah mandubah/sunnah/ mustahab (bid'ah yang dianjurkan), seperti acara tahlilan, yasinan, sholawatan, peringatan maulid nabi, Isra mi'raj, tahun baru hijriah, halal bi halal, khutbah Jum'at berbahasa Indonesia/ bahasa daerah agar audiens lokal faham, MTQ, dll. Bid'ah macam ini berpahala jika dilakukan, tetapi tidak berdosa jika ditinggalkan.
3. Bid'ah mubahah, (bid'ah yang boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan) seperti model2 pakaian yg menutup aurat (sarung, celana, koko, baju kurung, dll), menggunakan microfon/ medsos untuk berdakwah/ khutbah, dll. Bid'ah macam ini tidak ada pahala jika dilakukan dan tidak berdosa jika ditinggalkan.
4. Bid'ah makruhah (bid'ah yg sebaiknya tdk dilakukan), seperti menghiasi masjid dengan ayat-ayat Al-Qur'an secara berlebihan. Bid'ah macam ini berpahala jika ditinggalkan dan tidak berdosa jika dilakukan.
5. Bid'ah muharramah (bid'ah yg diharamkan) seperti menambahi atau mengurangi jumlah rakaat shalat fardhu; mengubah puasa ramadlan di bulan lain; beribadah haji di luar Makkah dan sekitarnya; menghalalkan perkara haram yang sudah ditetapkan keharamannya secara qath'i seperti zina, menikahi wanita mahramah; dll. Bid'ah semacam ini berdosa jika dilakukan dan berpahala jika ditinggalkan semata-mata karena Allah SWT.
Pembagian kelima hukum bid'ah diatas masing-masing berdasarkan dalil2 hukum Islam (adillatul ahkam).
Jadi, tidak semua bid'ah itu sesat (dlalalah) melainkan ada juga yang dianjurkan bahkan diwajibkan sehingga berpahala. Adapun bid'ah yang sesat (dlalalah) adalah bid'ah yang haram tersebut.
Itulah pemahaman yang benar tentang pengertian bid'ah sesuai pemahaman generasi salaf yang ahlussunah wal jama'ah.
Akhir2 ini ada tokoh2 salafi lokal yg mulai mengakui adanya bid'ah hasanah. Tetapi tokoh2 salafi tersebut membatasi bid'ah hasanah hanya pada sarana-sarana (wasail) ibadah, bukan ibadah ritual itu sendiri. Menurut mereka, bid'ah hasanah dalam hal sarana boleh, sedangkan dalam hal ibadah ritual haram.
Wallahu a'lam, harap berlapang dada. ๐๐๐

No comments:
Post a Comment