Bayan, Tonggak Sejarah Islam di Lombok
27/07/2013
MASJID KUNO.
Sejumlah wisatawan melihat Masjid Kuno Bayan Beleq, salah satu masjid tertua di
Pulau Lombok, NTB/Danu Winata/lomboktoday.co.id
KLU, LOMBOKTODAY.CO.ID – Dalam berbagai litelatur kuno tentang sejarah
Islam di Pulau Lombok, menyebutkan awal kedatangan Islam diperkirakan terjadi
sekitar abad 16 Masehi, melalui pesisir Bayan di Kabupaten Lombok Utara (KLU).
Penyiar awalnya adalah Sunan Prapen, yang tidak lain adalah keturunan salah
satu dari Wali Songo di tanah Jawa.
Sumber lain menyebutkan, Islam di Lombok juga
diperkirakan sudah ada sejak abad 13, berbarengan dengan masuknya Islam di
Pulau Jawa. Konon menurut sejarah, dibawa oleh pedagang-pedagang Arab, meski
tidak banyak naskah-naskah yang menuliskan bukti tersebut, termasuk tidak ada
ditemukan bukti artefaknya hingga saat ini.
Terlepas dari banyaknya persepsi tentang sejarah
awal kedatangan Islam ke Lombok, Bayan tetap diyakini masyarakat luas sebagai
daerah pertama yang mengenal Islam. Setelah itu baru menyebar ke seluruh
penjuru pulau Lombok, hingga kawasan barat dan timur.
Hal itu didukung dengan adanya sejumlah bukti
artefak yang hingga kini masih bisa dijumpai di daerah bayan, salah satunya
Masjid Kuno Bayan dan Alquran tulis tangan berusia ratusan tahun. “Ada
beberapa persepsi mengenai sejarah kedatangan Islam ke Lombok, namun yang
paling umum, Islam diperkirakan pertama kali datang abad ke 16, dibawa
Sunan Perapen dari tanah Jawa,” ungkap tokoh adat Bayan, Raden Gedarip.
Berdasar satu dari sekian banyak persepsi sejarah
Islam Lombok, orang pertama yang memeluk agama Islam di Bayan bernama Titi Mas
Supakel.
Tokoh Adat Bayan, Raden Gedarip
Dalam cerita sejarah yang ada, beliau diceritakan
memiliki lima orang putra-putri, empat laki-laki dan satu orang perempuan.
Mereka antara lain Titi mas Rempung, Titi Mas Muter, Titi Mas Sunsunan, Titi
Mas Bunbunan, dan Titi Mas Pande. Dari ke lima putra-putri titi mas supakel
itu, hanya Titi Mas Pande yang diketahui memiliki kemampuan lebih dan di
percaya oleh ayahnya sebagai penguasa adat.
Setelah memeluk agama Islam maka sebagai tanda
ke-Islamannya Titi Mas Supakel mengkhitankan empat putranya, namun di antara
keempat putranya tersebut, yaitu Titi Mas Bunbunan menolak dikhitan. Karena
tidak bersedia dikhitan, Titi Mas Bunbunan dikirim ayahnya untuk mencari ilmu
ke Bali, seiring waktu Titi Mas Bunbunan pun masuk agama Hindu kemudian menetap
di Bali.
Putra Titi Mas Supakel yang lain, yakni Titi Mas
Sunsunan dikirim ke pejanggik yang kemudian juga menetap disana. Setelah semua
putra beranjak dewasa, Titi Mas Supakel memutuskan pindah ke Gunung Batua dan
menyerahkan kepemimpinan Datu Bayan kepada anaknya yang paling besar yaitu Titi
mas Rempung.
Namun, tidak lama menjadi Datu Bayan, tahta
kepempinan diserahkan kembali kepada adik perempuannya yaitu Titi Mas Pande,
sehingga pimpinan di wilayah Kedatuan Bayan di pimpin oleh seorang perempuan
dan sekaligus sebagai pemimpin adat pada waktu itu. Ketika Titi Mas Pande
menjadi pemimpin kedatuan Bayan, pelaksanaan adat berjalan bersama dengan
pelaksanaan agama sehingga Titi Mas Pande di kenal oleh rakyatnya sebagai
pemimpin yang adil arif dan bijaksana.
Bersamaan dengan pindahnya ayah mereka ke Gunung
Batua, putra kedua dari Titi Mas Supakel yaitu Titi Mas Muter dikirim ke
mekah untuk mendalami Islam dan sekaligus untuk menunaikan ibadah
haji. Setelah cukup lama menuntut ilmu di tanah mekah, titi mas muter di
sarankan sang guru untuk kembali ke negerinya. Titi mas muter pun mendapatkan
gelar Syekh Nurul Rosid.
Diceritakan dalam perjalanan pulang Titi Mas Muter
yang sudah berganti nama Syekh Nurul Rosid singgah di Bagdad, Iraq untuk
memperdalam ilmunya. Setelah lama berguru dan belajar di Iraq, Syekh Nurul
Rosid kembali berganti nama menjadi Gaus Abdul Rozak, baru setelah mendapatkan
gelar tersebut Gaus Abdul Rozak melanjutkan kembali perjalanan pulang ke
negerinya.
Sejak kedatangannya pertama kali di pulau Lombok,
melalui pelabuhan carik bayan, para Sunan pembawa Islam terus menyebarkan
dakwahnya kepada warga lokal di sekitar kawasan pesisir. Masyarakat diberikan
pemahaman-pemahaman tentang kebesaran Islam, menyampaikan ajaran
ketauhidan. Seiring waktu, dengan pola komunikasi dan pendekatan positif,
masyarakat Bayan saat itu perlahan membuka diri, Islam-pun akhirnya diterima
masyarakat Sasak Bayan.
Konversi keyakinan secara besar-besaran terjadi.
Paham-paham dan praktik animisme mulai ditinggalkan, meski sebagaian masyarakat
suku sasak terutama yang berada di daerah-daerah pedalaman belum mampu
melepaskan diri sepenuhnya dari ideologis keyakinan local yang telah
diyakininya sejak lama.
Namun begitu, Islam di Lombok tidak berupaya
memposisikan dirinya secara diametral sebagai kelompok keyakinan yang eksklusiv
dengan budaya local yang sudah dijalani masyarakat sasak pada saat itu. Islam
membiarkan dirinya dipraktikkan dalam tradisi-tradisi lokal
masyarakat. Perkembangan Islam di Pulau Lombok, Bayan pada khususnya
berjalan beriringan dengan eksisitensi budaya dan karakteristik sosial
masyarakat hingga kini.
Membahas Islam di tengah masyarakat Sasak Lombok,
maka akan terfokus pada dua paham keagamaan yang ada, yakni Islam waktu lima
(atau Islam yang dikonotasikan sebagai Islam syariat) dan Islam Wetu Telu,
sebuah konsep pemahaman keyakinan tradisonal yang dipraktikkan masyarakat suku
Sasak Lombok secara kolektif sejak ratusan tahun silam.
Islam berkembang dengan pesat. Puluhan bahkan
ratusan tahun setelah kedatangannya ke pulau Lombok, kini Islam mampu
meletakkan dasar ajaran-ajaran ketauhidannya sebagai pegangan hidup bagi jutaan
jiwa masyarakat sasak Lombok pada umumnya.(Naskah dan Foto: Danu
Winata/Lomboktoday.co.id)
No comments:
Post a Comment